Bandung MOU : KORITAN ~ AGRI


PENANDATANGANAN NOTA KESEPAKATAN ANTARA
KOPERASI KORITAN JAWA BARAT DENGAN ASOSIASI GULA RAFINASI INDONESIA (AGRI)
DI BANDUNG, TANGGAL 14 AGUSTUS 2012

SIGNING OF THE MEMORANDUM OF UNDERSTANDING BETWEEN
WEST JAVA KORITAN COOPERATIVE AND THE INDONESIAN SUGAR REFINER ASSOCIATION
IN BANDUNG, ON AUGUST 14, 2012



  • INDONESIAN
  • ENGLISH

PENANDATANGANAN NOTA KESEPAKATAN ANTARA
KOPERASI KORITAN JAWA BARAT DENGAN ASOSIASI GULA RAFINASI INDONESIA (AGRI)
DI BANDUNG, TANGGAL 14 AGUSTUS 2012

Ada 40.000 usaha kecil dan menengah (UKM) seJabar yang usahanya memerlukan Gula Kristal Rafinasi (GKR), namun pada kenyataannya mereka sulit untuk mendapatkannya dan harganyapun tinggi. Pada 30 Januari 2012 diadakan pertemuan antara Koperasi Industri Tambun (Koritan) yang merupakan koperasi Asosiasi Industri Kecil Menengah Agro (AIKMA) Jabar dan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) yang menghasilkan suatu solusi yaitu dengan cara menjalin kemitraann dalam menjamin ketersediaan gula rafinasi bagi seluruh UKM tersebut.

Setelah AGRI mengadakan Kunjungan Kerja ke Garut pada tanggal 18 April 2012 sebagai upaya penjajagan kemitraan antara AGRI dan UKM, maka pada 14 Agustus 2012 terlaksanalah penandatanganan Nota Kesepakatan Antara AGRI dengan Koperasi Koritan-Jawa Barat Tentang Pasokan Gula Kristal Rafinasi Bagi Industri Kecil Dan Menengah Agro Di Jawa Barat, sebagai wujud nyata dari amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, khususnya Pasal 16 dan Pasal 25.

Dalam kerja sama tersebut, Koritan berperan sebagai pemasok gula rafinasi bagi 40.000 UKM yang menjadi anggotanya. Sementara itu, AGRI berperan dalam rangka mempermudah akses mendapat gula rafinasi bagi pihak Koritan.

Awalnya, sebelum sampai ke tangan pelaku UKM, gula rafinasi dari pabrik mesti terlebih dahulu melewati distributor, agen, sub – agen, dan ritel. Dengan demikian, menurutnya, harganya menjadi lebih mahal. Empat rantai tata niaga tersebut mesti dilalui pelaku UKM karena pabrik gula tidak mau melayani pembelian dalam jumlah kecil, kata H. Suyono, Ketua Asosiasi Industri Kecil dan Menengah Agro Jawa Barat.

Menurut Ketua AGRI, Suryo Alam, hal itulah yang selama ini menyebabkan pengusaha besar makin kaya dan pengusaha kecil makin kesulitan dan biaya produksi tinggi. Selama ini pengusaha besar bisa mendapatkan gula rafinasi dengan harga lebih murah karena pembeliannya dilakukan dalam jumlah besar. Sementara itu, pengusaha kecil mesti membeli mahal karena pembeliannya sedikit.

Pada kesempatan tersebut, Suryo Alam juga mengatakan, selama ini pengusaha besar tidak kesulitan untuk mengakses gula rafinasi karena keberadaan mereka terdata dan kebutuhannya terhadap gula rafinasi bisa diketahui dan dipantau. Berbeda halnya dengan pengusaha kecil, jangankan bisa diketahui kebutuhannya, data secara lengkapnya pun memang tidak ada.

Terkait kebutuhan gula rafinasi, Suyono menjelaskan, kebutuhan UKM terhadap gula rafinasi di Jabar paling sedikit adalah 7.380 ton/ bulan dan paling banyak 14.760 ton/ bulan. Selain dibutuhkan dalam sisi kuantitas, secara kualitas gula rafinasi merupakan produk vital bagi UKM,.

Lebih lanjut, Suyono mengatakan, dengan menggunakan gula tersebut, UKM bisa menghasilkan produk yang lebih tahan lama. Penggunaan gula rafinasi bisa membuat produk lebih tahan 1,5 kali lebih lama. Dengan demikian, keberadaan gula rafinasi sekaligus bisa menggantikan fungsi dari bahan pengawet.

Direktur Industri Kecil dan Menengah Wilayah II, Gati Wibawaningsih mengatakan, pihak Ditjen Industri Kecil dan Menengah menyambut baik kerja sama yang dilakukan oleh Koritan dan AGRI. Hal ini merupakan yang pertama kali di Indonesia dan menurut nya hal ini perlu disosialisasikan kepada seluruh koperasi dan UKM yang ada di Indonesia agar di daerah lain pun melakukan hal yang sama.

Gati mengatakan, pihaknya akan melakukan pemantauan selama satu tahun terhadap pelaksanaan kerja sama tersebut. Selanjutnya, bila hasil evaluasi menunjukan hal positif, maka bentuk kerja sama tersebut akan dijadikan panduan utama kerja sama di daerah lainnya.

Acara Penandatanganan Nota Kemitraan ini dihadiri oleh Gati Wibawaningsih, Direktur Industri Kecil dan Menengah Wilayah II – Kementerian Perindustrian yang mewakili Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian; Susi yang mewakili Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan; Ferry Sofwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat; Perwakilan dari Kordinator – Kordinator Wilayah se Jawa Barat: Pengurus AGRI dan perwakilan dari anggota AGRI dan Perwakilan dari pemerintah daerah lainnya.

Pada akhir acara diadakan kunjungan ke beberapa IKM diikuti dengan diskusi dan berbagi pengalaman usaha para IKM, Yang dikunjungi diantaranya adalah Dodol buah-buahan PUSAKA; Oleh-oleh khas Garut JS; dan Aneka dodol dan kerajinan CV. SALUYU. Topik pembahasan meliputi beberapa hal mengenai kebutuhan gula setiap bulan; ketersediaan gula kristal rafinasi; kualitas gula kristal rafinasi dibandingkan dengan gula kristal putih; harga gula kristal rafinasi; distributor gula kristal rafinasi; dan kendala yang dihadapi dalam penggunaan gula kristal rafinasi.

Dari hasil kunjungan tersebut dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

  • Jawa Barat umumnya dan Garut khususnya merupakan salah satu wilayah sentra industri makanan dan minuman berskala kecil dan menengah di Indonesia yang cukup banyak menggunakan GKR.
  • Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Koperasi UKM Jawa Barat, Ketua AIKMA Jawa Barat dan pengusaha UKM/IKM yang ada di Garut, permasalahan di Jawa Barat yang bekaitan dengan GKR antara lain: 1) kesulitan mendapatkan GKR secara berkesinambungan untuk mencukupi kebutuhan UKM/IKM, 2) GKR dijual dalam kemasan karungan padahal kebutuhan dan kemampuan beli kurang dari 1 karung, 3) harga yang sangat fluktuatif, 4) sistem pembayaran yang selama ini tidak sesuai bagi UKM/IKM dan 5) perbedaan kualitas GKP yang sering menjadi alternatif apabila terjadi kesulitan memperoleh GKR. Selanjutnya pihak IKM minta agar AGRI memperhatikan masalah-masalah ini.
  • Jawa Barat merupakan salah satu sentra industri berskala kecil dan menengah yang dapat dijadikan sebagai percontohan (pilot project) oleh AGRI untuk program kegiatan kemitraan AGRI tahun 2012,
  • Sesuai dengan nota kesepakatan Koperasi UKM Jawa Barat akan menjadi penyalur GKR bagi kebutuhan para anggotanya, dalam hal ini Ketua Koperasi UKM menghimbau AGRI supaya menerapkan azas saling menguntungkan.
  • Koperasi UKM Jawa Barat dan AIKMA bersedia untuk melakukan pembelian GKR secara tunai dengan harga bersaing serta barang diambil di gudang pabrik (loco pabrik). Diharapkan juga pihak koperasi UKM dan AIKMA tidak akan memberatkan pabrik-pabrik AGRI.

SIGNING OF THE MEMORANDUM OF UNDERSTANDING BETWEEN
WEST JAVA KORITAN COOPERATIVE AND THE INDONESIAN SUGAR REFINER ASSOCIATION
IN BANDUNG, ON AUGUST 14, 2012

There are 40,000 small and medium sized industries (SMI) in West Java, which need White Sugar, but find it is often difficult to obtain and when available the price is high. On January 30, 2012, a meeting was held between Tambun Industries Cooperative (Koritan), which is a cooperative for Small and Medium Sized Agro Industries Association (SMAIA) in West Java, and the Indonesian Sugar Refiner Association (Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia / AGRI) who agreed on a solution which is to establish a partnership to guarantee the availability of white sugar for the small and medium sized industries.

After the working visit by AGRI in Garut on April 18, 2012 as a precursor to a partnership between AGRI and SME, on August 14 2012 a Memorandum of Understanding was signed between AGRI and the West Java Koritan Cooperative regarding the Supply of White Sugar For Small and Medium sized Agro Industries in West Java, as a manifestation of the Law of the Republic of Indonesia Number 20 Year 2008 Regarding Micro, Small and Medium Sized Enterprises, especially Article 16 and Article 25.

In the said partnership, AGRI is to have an important role in providing access to white sugar, while West Java SME Cooperative will act as the distributor of white sugar to fulfill the requirements of its members.

Previously, before being received by the SMI, the white sugar first went through a distributor, an agent, a sub-agent, and then a retailer. This process raised the price of white sugar considerably. The SMI had to go through four links in the chain of retail because the sugar factories do not want to deal with small purchases, said H. Suyono, the Head of the Small and Medium Agro Industries, West Java.

According to Suryo Alam, the Chairman of AGRI, this is what is making large industries even richer, while small industries are finding it harder and harder to survive because their production costs are soaring. So far, larger industries can obtain white sugar at a lower price because they make bulk purchases. Meanwhile, smaller industries must pay a higher price because they can only purchase small amounts.

Suryo Alam further said that thus far large industries have not had any problems in obtaining white sugar because their existence is recorded, and their needs for white sugar are known and monitored, unlike smaller industries whose needs are not recognized. In addition, no data about them is available.

In relation to the need for white sugar, Suyono explained that the SME in West Java require at least 7,380 tons/month and at the most 14,760 tons/month white sugar. In addition to the quantity needed by SME, the quality of the white sugar is also important for SME.

Furthermore, Suyono said that by using white sugar SME can produce goods that have a longer shelf life. Using white sugar can produce goods that last 1.5 times longer. Therefore, white sugar can also replace the use of preservatives.

The Director for Small and Medium Sized Industries Region II, Gati Wibawaningsih, said that the Directorate-General for Small and Medium Sized Industries welcomes the partnership between Koritan and AGRI. This is the first in Indonesia and he believes that all cooperatives and SME throughout Indonesia should be made aware of this so that other areas can also implement similar partnerships.

Gati stated that the Directorate will monitor the implementation of the partnership for one year. If the evaluation proves positive, then the partnership shall be used as a model for partnerships in other regions.

The signing of the Partnership Understanding was attended by Gati Wibawaningsih, Director for Small and Medium Sized Industries Region II– Ministry of Industry representing the Directorate General for Small and Medium Sized Industries – Ministry of Industries; Susi, representing the Directorate General for Domestic Trade – Ministry of Trade; Ferry Sofwan, Head of the Board of Industries and Trades, West Java Province; Representatives from West Java Regional Coordinators; AGRI Management and representative from AGRI members and Representatives from other regional government.

The signing was followed by visits to a number of Small and Medium Industries (such as JS shop for souvenirs from Garut, and CV Saluyu for dodol, a sweet like toffee, and craft) was followed by a discussion and experience sharing among SMI. Discussion topics included the required amount of white sugar each month; the quality of white sugar compared to plantation white sugar; the price of white sugar; distributors of white sugar ; and obstacles to using white sugar .

From the visits, the following was concluded:

  • West Java in general and Garut in particular, is one of the areas of small and medium sized food and beverages industries in Indonesia that uses a considerable amount of white sugar.
  • As stated by the head of the West Java SME Cooperative, the Head of West Java SMAIA, and the SME/SMI industries in Garut, some of the issues in West Java relating to white sugar are: 1) difficulties in obtaining a continuous and adequate supply of white sugar to fulfill the needs for SME/SMI, 2) White sugar is sold by the sack, whereas the needs and purchasing capabilities of those industries is less than one sack, 3) fluctuating prices, 4) payment systems are not suitable for SME/SMI and 5) differences in quality between white sugar and plantation white sugar which is the usual substitute when it is difficult to obtain white sugar. SMI requests that AGRI take these issues into serious consideration.
  • West Java is one of the small and medium sized industrial areas, which can be used as a pilot project for AGRI, for other AGRI partnership programs in 2012.
  • In accordance with the agreement West Java SME Cooperative shall be the distributor of white sugar to fulfill the requirements of its members. In relation to this, the head of the SME Cooperative requested that AGRI apply a win-win approach.
  • West Java SME Cooperative and SMAIA are prepared to purchase white sugar in cash at a competitive price, and the goods shall be collected from the factory warehouse. It is hoped that both SME Cooperative and SMAIA shall not be a burden for AGRI factories.