Pembuatan Gula Kristal Mentah

Pada dasarnya pembuatan gula kristal mentah sama dengan pembuatan gula kristal putih kecuali pada tahapan prosesnya yang berbeda yaitu lebih singkat daripada proses pembuatan gula kristal putih. Pada proses pembuatan gula kristal mentah, pemurnian nira tebu lebih ringkas dan sederhana yaitu hanya mengalami proses defekasi sebelum nira dikentalkan dan diolah menjadi kristal. Dalam proses ini tidak dilakukan karbonatasi atau sulfitasi. Defekasi adalah proses pembersihan nira tebu yag minim saja. Gula kristal yang dihasilkan umumnya dinamakan gula sangat mentah atau "very raw sugar” dengan ICUMSA berkisar antara 1.600 – 4.500 IU.

Belakangan ini ada negara-negara, salah satunya Brazil, yang menambahkan proses penggunaan mesin sentrifugal dalam proses pembuatan gula kristal mentah sehingga menghasilkan VHP raw sugar atau “very high polarity raw sugar”. Ekspor pertama VHP Brazil dilaksanakan tahun 1993. ICUMSA VHP berkisar antara 600 – 1200 IU dengan polarity mencapai 99,4%. Polarity adalah ukuran satuan kadar gula sehingga pol 99,4% berarti kandungan gulanya mencapai 99,4% sedangkan sisanya yang 0,6% adalah limbah atau residu yang masih terikut.

Nira hasil ekstraksi dari tebu dikenakan defekasi yaitu penyaringan dari padatan kotor dan kemudian disaring lagi kotoran cairnya menggunakan sedikit sekali susu kapur. Ada juga yang tidak menggunakan susu kapur melainkan dengan cara “skimming” dan pengendapan kotoran sebelum dikentalkan dan diolah menjadi gula kristal mentah. Gula mentah semacam ini dinamakan  “very raw sugar” berwarna coklat tua dan lengket karena kandungan molasses-nya masih banyak.

Pembuatan VHP raw sugar sama dengan pembuatan raw sugar kecuali ditambahi penyaringan menggunakan mesin sentrifugal. Penggunaan mesin memungkinkan dipisahkannya molasses dari kristal sehingga raw sugar yang dihasilkan lebih terang warnanya bila dibandingkan dengan warna very raw sugar. Grade gula mentah tersebut tersebut dinamakan grade “A”.

Selanjutnya, molasses yang telah dipisahkan dinamakan molasses pertama atau “first molasses” yang kadar sukrosanya relatif masing tinggi. Molasses tersebut dapat langsung dijual atau diolah ulang sehingga menghasilkan raw sugar grade “B” serta sisa molasses yang lebih pahit dan lebih rendah kadar sukrosanya. Molasses tersebut dinamakan “second molasses”. 

Kemudian “second molasses” diolah lagi sehingga menghasilkan raw sugar grade “C” serta sisa molasses yang dinamakan “backstrap molasses”. Molasses tersebut dapat digunakan untuk bahan campuran makanan ternak atau sebagai bahan bagi pembuatan supplement kesehatan karena kandungan vitamin dan mineralnya.

Akhirnya, gula metah grade “B” dan “C” dicairkan dan diolah lebih lanjut untuk memperoleh VHP raw sugar. Saat ini VHP raw sugar paling banyak diperdagangkan untuk diolah menjadi refined sugar atau gula rafinasi. Dalam pembuatan refined sugar, penggunaan VHP raw sugar merupakan pilihan utama dibandingkan penggunaan bahan baku lain. Dalam tiap shipment VHP raw sugar terdapat kandungan sukrosa yang lebih tinggi dan pengolahannya menjadi refined sugar dengan ICUMSA kurang dari 45 IU menjadi lebih singkat dan cepat bila dibandingkan penggunaan bahan baku lain.