UMUM

Perdagangan gula dunia, baik gula tebu maupun gula beet, selalu diwarnai oleh gejolak harga akibat ketidak seimbangan yang berkesinambungan permintaan dan penawaran. Sumber gejolak tersebut adalah masalah pergulaan yang dihadapi tiap-tiap negara konsumen dan produsen gula, baik negara maju maupun negara berkembang.

Gula adalah salah satu komoditas pangan yang penting yang dikonsumsi oleh semua negara di dunia. Namun tidak semua negara memproduksi gula sehingga selalu ada negara-negara yang sepenuhnya bergantung pada impor. Selain itu, semua negara selalu mengupayakan pasokan gula yang cukup di dalam negeri sehingga industri gula adalah industri yang paling diatur dan diawasi oleh pemerintahnya masing-masing. 

Hampir semua negara produsen gula di dunia selalu mengupayakan perlindungan bagi industri gula lokalnya, misalnya dengan memberikan subsidi terselubung dan proteksi impor. Pengaturan harga gula juga dilakukan melalui perjanjian bilateral maupun regional.  Banyak negara berkembang yang mengandalkan ekspor gula sebagai penghasil devisa utama sehingga selalu diekspor meskipun harga jatuh. Negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa juga menerapkan kebijaksanaan yang melindungi industri gulanya. Akibatnya gula yang diperdagangkan di pasar dunia adalah hanya berkisar 30%-35% dari produksi dunia dan harganya di pasar bebas juga tidak selalu proporsional dengan biaya produksinya, bisa lebih rendah dan bisa juga lebih tinggi.

Produksi Eksport Produksi Import

Eksportir gula terbesar adalah Brazil sehingga harga Brazil menjadi salah satu patokan penting dalam pembentukan harga di pasar dunia. Berbagai faktor iklim, lahan, tenaga kerja serta kebijaksanaan pemerintah menyebabkan Brazil mampu memasok dunia dengan harga yang sangat kompetitif.

Penggunaan ethanol tebu sebagai bahan bakar kendaraan menyebabkan harga gula dunia juga dipengaruhi oleh harga minyak bumi di pasaran dunia. Padahal harga minyak bumi bukan hanya dipengaruhi oleh keadaan perkonomian dunia melainkan juga oleh percaturan geopolitik. Dapat ditambahkan bahwa pilihan untuk membeli gula dari suatu negara juga dipengaruhi oleh nilai tukar antar mata uang dan biaya angkutan gula. Pada tahun 2008, lonjakan kenaikan harga minyak bumi dunia telah menyebabkan kenaikan sebesar 22% pada harga gula dunia.

Grafik gejolak harga gula 1989 - 2010

Pada gambar di atas tampak perkembangan harga yang bergejolak yang menjadi ciri dinamika harga gula dunia. Gejolak harga tersebut bukan hanya disebabkan oleh perimbangan produksi dan konsumsi melainkan juga akibat terlibatnya berbagai faktor lain. Pertama harus dicatat bahwa harga gula dunia tidak selalu mencerminkan proporsinya terhadap biaya produksi. Di banyak negara yang melempar gulanya ke pasaran dunia, termasuk Uni Eropa, Amerika Serikat dan India, industri gulanya menikmati proteksi atau subsidi dari pemerintahnya. Dalam hal terjadi surplus produksi, gulanya dijual dengan harga bersubsidi sehingga dapat menekan harga pasar. Kedua, umumnya pemerintah selalu mengutamakan kecukupan gula di dalam negeri. Dalam hal terdapat kelebihan gula maka segera dilakukan ekspor sedangkan bila kekurangan maka segera dilakukan impor. Selain itu juga terdapat penjanjian khusus seperti perjanjian preferensi dimana harga gula ditetapkan berdasar kesepakatan bilateral maupun regional. Hal ini menyebabkan relatip kecilnya volume gula yang diperdagangkan di pasar dunia bila dibandingkan dengan produksi dan konsumsinya, yaitu pada kisaran angka 30-an persen saja.

Produksi Import Produksi Eksport

Produksi dan Konsumsi Gula

Gula yang paling banyak diproduksi dan diperdagangkan adalah gula tebu dan gula beet. Produksi gula berbahan baku tebu mencapai 75% dari produksi dunia. Gula tebu diperdagangkan dalam bentuk gula mentah dan gula rafinasi sedangkan gula beet dalam bentuk gula rafinasi. Tidak ada perbedaan antara gula rafinasi yang berbahan baku tebu maupun yang berbahan baku beet. Saat ini diperkirakan 66% - 69% dari produksi gula dikonsumsi di negara produsen, sisanya dijual ke pasar dunia.

Industri gula memegang peranan penting di negara-negara produsennya, bukan saja di negara berkembang melainkan juga di negara maju. Di Amerika Serikat misalnya, industri gula beet dan tebu menyumbangkan US$ 10 milyar kepada perekonomian setempat sedangkan sumbangan industri pemanis buatan berbahan baku jagung mencapai US$ 21 milyar. 60% produksi gula Amerika Serikat berasal dari gula berbahan baku beet sedang sisanya dari gula berbahan baku baku tebu. Gula buatan juga memegang peranan yang makin penting. Konsumsi gula Amerika Serikat mencapai 10 juta ton pertahunnya dan rata-rata perorangan setiap tahunnya mengkonsumsi 45 lb gula tebu/beet, 45 lb gula buatan berbahan baku jagung dan 2 lb madu lebah. 

Produsen gula terbesar di dunia adalah Brazil dan India sedangkan konumen gula terbesar adalah India dan Uni Eropa 27. Pada musim gula 2009/2010, produksi Brazil diperkirakan sebesar 36,400.000 mtrv sedangkan India 20,637,000 mtrv. Produksi di Brazil tergangu curah hujan yang terlalu tinggi sedangkan di India terganggu panas bulan Juni yang luar biasa. Diramalkan bahwa pada tahun gula 2011/2012 akan lebih baik dimana masing-masing produksinya akan mencapai 39,600,000 mtrv dan 28,300,000 mtrv sebagaimana pada grafik di bawah ini.

Pada musim gula 2009/2010, konsumsi India diperkirakan sebesar 23,500,000 mtrv sedangkan Uni Eropa 27 sebesar 17,400,000 mtrv. Diramalkan bahwa pada tahun gula 2011/2012 masing-masing konsumsinya akan mencapai 17,500,000 mtrv dan 26,500,000 mtrv sebagaimana pada grafik di bawah ini.


Harga Gula Dan Faktor Yang Mempengaruhinya

Harga gula dunia yang menunjukkan penurunan pada masa 1994-2004 adalah akibat meluapnya produksi. Pada masa berikutnya yaitu 2004-2006 harganya melonjak naik akibat penurunan produksi. Jatuhnya harga gula tahun 2007 adalah akibat ==== untuk kemudian naik lagi akibat pengaruh lonjakan harga minyak bumi. Panen tebu yang kurang baik di produsen utama gula yaitu Brazil dan India pada tahun 2009 telah menyebabkan kenaikan harga gula.

Selain iklim, faktor-faktor yang menggerakkan naik turunnya harga gula adalah kebijaksanaan pemerintah, penggunaan ethanol, pandangan mengenai kesehatan, perkembangan penduduk dan substitusi gula.

Kebijaksanaan pemerintah yang memproteksi industri gula menyebabkan harga penjualan yang lebih rendah daripada biaya produksinya. Produsen gula dapat mengekspor surplusnya dengan harga rendah karena penjualan di dalam negerinya sudah memberikan keuntungan. USDA menyatakan bahwa 80% dari gula ekspor disubsidi oleh pemerintah. Uni Eropa mempunyai perjanjian khusus untuk mengimpor gula tebu dari negara-negara Afrika bekas jajahannya namun juga mengekspor surplus produksi gula beet-nya. Kuba tetap melakukan barter dengan Russia meskipun secara lebih terbatas. Negara-negara seperti Barbados, Jamaika, Guyana dan Dominika mengekspor seluruh produksi gulanya ke Amerika Serikat dan Uni Eropa dengan harga premium dalam rangka memenuhi perjanjian bilateralnya. Quota membatasi impor gula ke Amerika Serikat namun pabrik gula rafinasinya boleh mengekspor surplus produksinya. 

Peningkatan produksi ethanol telah menaikkan harga gula karena keduanya menggunakan bahan baku yang sama yaitu tebu. Kebanyakan ethanol dibuat dari gula tebu karena penggunaan jagung lebih mahal. Brazil yang merupakan produsen ethanol terbesar di dunia menggunakan 60% tebunya untuk pembuatan ethanol. Penggunaan etahnol sebagai bahan bakar kendaraan menyebabkan keterkaitannya dengan minyak bumi.  

Meskipun tidak sepenuhnya benar, masyarakat berpandangan bahwa gula adalah penyebab obesitas, gangguan jantung dan mengakibatkan diabetes. Pandangan ini menyebabkan berpindahnya pilihan konsumen dari gula alami yaitu gula tebu maupun gula beet ke pilihan penggunaan gula sintetis seperti gula jagung atau high fructose corn syrup. Pandangan semacam ini lebih banyak terjadi di negara-negara maju yang konsumsi gulanya tinggi. 

Meningkatnya jumlah penduduk dunia dan perbaikan taraf hidup serta tingkat pendidikan memastikan kenaikan konsumsi gula dan konsumsi makanan minuman yang mengandung gula serta konsumsi pemanis buatan. Gejala tersebut banyak terjadi di Asia, Afrika Utara dan Timur Tengah. Di negara-negara berkembang, konsumsi gula diperkirakan meningkat 1.8% per tahunnya.

Jumlah penduduk juga mempengaruhi peran negara yang bersangkutan dalam perdagangan gula dunia. Negara-negara penghasil utama gula dunia belum tentu dapat menjadi pengekspor utama dunia. India dan Uni Eropa 27 yang termasuk dalam 5 besar produsen gula dunia ternyata bukan eksportir utama dunia.

10 Besar Negara Importir Gula
10 Besar Negara Eksportir Gula

Negara-negara seperti Kuba, Brazil, Muangthai dan Australia telah menunjukkan peranannya yang berkesinambungan sebagai produsen eksportir gula. Sementara itu India dan RRT memiliki peran yang berubah-ubah menjadi importir atau eksportir.

Prakiraan Jangka Pendek

Tidak mampunya produksi mengejar kenaikan konsumsi menyebabkan harga gula bergolak naik pada awal tahun 2010, mencapai titik tertinggi selama 29 tahun (lihat grafik). Penyebabnya bukan hanya faktor iklim yang melanda Brazil dan India, melainkan juga ketiadaan insentif bagi gula dalam menghadapi komoditas lain. Persandingan antara perkembangan harga gula dunia dengan harga komoditas tropis lain menunjukkan hubungan yang tidak sinkronis. Pada waktu harga gula turun, harga komoditas lain naik dan demikian pula sebaliknya. Pada tahun 2007/2008 harga gula turun sedangkan harga komoditas lain naik, demikian pula pada tahun 2009 harga gula naik sedangkan harga komoditas tropis lainnya turun. Turunnya harga gula thu 2007/2008 mengalihkan pilihan petani dari tebu ke komoditas lain sehingga terjadi penurunan produksi tebu yang mengakibatkan defisit gula yang pada gilirannya menurunkan stok gula dunia. Selanjutnya kenaikan harga tahun 2009 tidak mampu dibendung pada panen tahun 2009/2010 (1 Oktober – 30 September) sehingga pada tahun 2010/2011 harga tetap tinggi. Diperkirakan harga belum dapat turun pada tahun mendatang karena stok dunia masih tipis.

Source :

  1. KS Mulherin_The Economic Importance Of Sugar And Sugar Cane - Problems And Perspectives 1986 
  2. Sugar Wikianalysis 
  3. JH Galloway_Sugar_World History of Food 
  4. USDA 
  5. OECD-FAO Agricultural Outlook 2010-2019