PENYEBARAN GULA KEARAH BARAT

Persia mengenal tebu dari India pada abad ke-6 Masehi. Gula tercatat sebagai inventaris yang berharga dalam istana dekat Baghdad ketika Kaisar Heraclius, Romawi, merebutnya pada tahun 627 Masehi.

Ada kemungkinan bahwa orang Arab memperoleh tebu dan teknologi pembuatan gula dari Persia melalui perdagangan dan penaklukan. Tebu dan teknologi dari Persia mereka bawa ke wilayah-wilayah yang mereka taklukkan. Ekspansi Arab dimulai pada tahun 636 Masehi dengan kekalahan Heraclius diikuti dengan pendudukan Persia dan Suriah. Mesir ditaklukkan pada tahun 640 yang diikuti dengan wilayah-wilayah di sepanjang Afrika Utara, mencapai Maroko pada tahun 682 dan pada tahun 710 mereka menyeberang ke Spanyol. Pulau-pulau di Laut Tengah juga dikuasai, seperti Siprus pada tahun 644 Masehi, kemudian Sisilia pada tahun 655 Masehi, Kreta pada tahun 823 dan Malta pada tahun 870.

Pengembangan industri gula di wilayah-wilayah kekuasaan Arab berlangsung dengan cepat, seperti di Mesir yang tercatat adanya produksi gula pada tahun 700, yaitu hanya 60 tahun setelah penaklukan. Industri gula didirikan oleh orang Arab di Siprus, Sisilia, Suriah, Mesir, Maroko dan Spanyol. Menarik untuk dicatat bahwa produksi gula tebu masih dilakukan di selatan Spanyol hingga saat ini.

Ekspansi Arab ke Mediterania merupakan suatu perkembangan yang sangat penting dalam sejarah gula. Pembangunan industri gula yang berkembang dengan pesat di Sisilia dan selatan Spanyol memberikan landasan untuk perluasan produksi gula besar-besaran berikutnya selama masa kolonial. Pentingnya pendudukan Arab dalam sejarah gula adalah penyebaran rasa manis ke Eropa Selatan. Eropa Utara mengenal gula dari para tentaranya yang kembali dari Perang Salib, dimana mereka bertemu dengan kafilah-kafilah yang membawa “garam manis” di Tanah Suci.

Pada awal abad ke-12, Venesia membuka perkebunan tebu di wilayah yang mereka kuasai di sekitar Tirus dan menjual hasil gulanya ke negara-negara Eropa lainnya. Jumlahnya sedikit dan digunakan sebagai pelengkap madu. Seorang penulis sejarah Perang Salib, William of Tyre, pada akhir abad ke-12 menyatakan bahwa gula "sangat penting bagi manusia dan bagi kesehatan umat manusia". Seorang akademisi Inggeris Clive Ponting dalam bukunya “World History: A New Perspective” menulis masalah yang dihadapi pada masa awal industri gula di Eropa sebagai berikut: Masalah penting dalam produksi gula adalah banyaknya tenaga kerja yang diperlukan, baik di penanaman maupun di pengolahan. Banyaknya dan beratnya batang tebu menyebabkan sangat mahal biaya pengangkutannya, terutama angkutan darat, sehingga tiap perkebunan haruslah memiliki pabrik sendiri. Tebu harus digiling untuk memperoleh niranya untuk kemudian direbus untuk mengambil sari manisnya, yang semua ini merupakan rangkaian pekerjaan yang melelahkan dan berlangsung berjam-jam. Namun, setelah diproses dan dan dipadatkan, gula curah dalam jumlah yang besar memberi keuntungan sangat tinggi karena dapat diperdagangkan ke tempat jauh.

Industri gula Eropa baru dimulai pada skala yang lebih besar setelah orang-orang Arab merebut kembali Levant yang sekarang adalah Suriah, Libanon, Jordania, Israel. Oleh para bangsawan Perang Salib dan pedagang Venesia, produksi gula dipindahkan dari Levant ke Siprus. Untuk tenaga kerjanya didatangkan budak dari kawasan Laut Hitam dan sedikit dari Afrika. Kemudian industri yang lebih besar dibangun di Sisilia dan selanjutnya di Kepulauan Kanari, Madeira dan Cape Verde, yang semuanya memerlukan tenaga budak dalam jumlah yang lebih besar. Sejak itu mulai didatangkan budak dalam jumlah lebih besar dari Afrika.

Sampai dengan pertengahan abad XVII, perdagangan gula ke Eropa dikuasai oleh para pedagang Arab dan Venesia. Harga gula mahal sekali dan mereka mendapat keuntungan besar dari perdagangan gula. Catatan Inggeris menyatakan bahwa satu sendok gula berharga setara lima dollar. Pada saat itu empat pound gula dapat ditukar dengan seekor anak sapi.

Pembangunan pabrik gula dan perkebunan tebu di Dunia Baru telah memberikan kekayaan yang luar biasa bagi kerajaan-kerajaan di Eropa Barat. Diawali dari Hispanolia, industri gula berkembang meluas ke Amerika Tengah dan Amerika Selatan pada wilayah-wilayah jajahan Spanyol, Perancis, Portugis dan Inggeris.