(Catatan : Uraian berikut ini bersifat eksploratif sehingga diharapkan koreksi dan penyempurnaan dari para pembaca).

SEKILAS MENGENAI AWAL INDUSTRI GULA DI INDONESIA

  • Lokasi awal pendirian industri gula di Indonesia.
  • Peran teknologi pengolahan gula kristal.
  • Pengaruh situasi politik terhadap produksi gula.
  • Bangkit dan surutnya industri gula di Batavia.

Setelah membaca beberapa literatur mengenai riwayat pergulaan di Indonesia, timbullah pertanyaan : “Dimanakah awal industri gula dan apa yang terjadi kemudian?”. Ternyata tidak mudah menjawab pertanyaan tersebut karena terbatasnya informasi yang relevan. Sulit memastikan lokasi awal industri gula di Indonesia atau Hindia Belanda pada waktu itu, sehingga hanya dugaan saja yang dapat disajikan dalam tulisan ini.

Uraian mengenai apa yang terjadi kemudian lebih banyak disangkutkan dengan catatan pergolakan politik yang tidak selalu berkaitan langsung dengan industri gula.


 

SEJARAH GULA DI INDONESIA

  • 1. Awal Pembuatan Gula Kristal : Di Banten Atau Di Batavia ? +

    AWAL PEMBUATAN GULA KRISTAL : DI BANTEN ATAU DI BATAVIA ? Pemanis makanan dan minuman sudah dikenal di Indonesia sejak zaman dahulu, seperti madu lebah dan gula kelapa, gula aren dan lain-lain. Raffles dalam “History of Java” menulis bahwa penduduk asli di Jawa lazimnya mengkonsumsi gula merah. Tebu tidak dikonsumsi sebagai bahan pemanis melainkan sebagai makanan penyegar yaitu dengan mengunyah batang untuk air tebu. Gula yang disukai adalah gula merah yang mereka buat dari nira kelapa atau nira tebu yang dimasak sampai kental lalu dijemur sampai keras. Mereka tidak tertarik memproses nira tebu menjadi gula kristal. Galloway dalam “The Sugar. Cane Industry: Read More
  • 2. Batavia +

    BATAVIA Cornelis de Houtman tiba di Sunda Kelapa 13 Nopember 1596 yang merupakan pelabuhan kota Jayakarta. Penduduk Sunda Kelapa berjumlah beberapa ribu orang, termasuk komunitas kecil Tionghoa di utara kota yang umumnya pedagang dan pembuat arak. Kota tersebut adalah bagian dari Kesultanan Banten dengan penguasanya adalah Pangeran Wijayakrama. Pelabuhan ini dianggap strategis sehingga menjadi persinggahan kapal-kapal VOC untuk mengisi perbekalan. VOC yang sudah memiliki benteng di Ambon untuk monopoli perdagangan rempah-rempah menganggap bahwa lokasi Ambon terlalu jauh dari jalur perdagangan utara-selatan. Banten dinilai lebih strategis lokasinya, namun di Banten VOC berhadapan dengan Kesultanan Banten yang kuat dan persaingan dengan Inggeris Read More
  • 3. Industri Gula +

    INDUSTRI GULA Pabrik gula pada awal abad XVII adalah kilang-kilang penggilingan tebu, pembuatan gula serta kebun tebunya. Dibandingkan dengan pabrik gula masa kini, pabrik gula abad XVII tampak sangat sederhana. Meskipun demikian, pada masa itu pengelolaan pabrik gula memerlukan manajemen yang relatif kompleks, teknologi yang rumit serta dukungan finansial yang cukup besar, disamping pajak dan perijinan oleh VOC serta monopoli pembelian oleh VOC yang menetapkan jumlah dan harga pembelian gula sesukanya. Faktor-faktor terpenting yang harus diperhitungkan dalam pengusahaan gula tebu meliputi lokasi penggilingan, lokasi lahan tebu, ketersediaan bahan bakar kayu, ketersediaan tenaga kerbau, ketersediaan tenaga kerja, peralatan masak dan penggilingan Read More
  • 4. Perdagangan +

    PERDAGANGAN Pada awal kekuasaan VOC di Hindia Belanda yaitu sebelum terlibat pada kancah politik, kegiatan VOC semata-mata dipusatkan pada perdagangan saja. Benteng-benteng serta armada kapal VOC diutamakan untuk menjaga keamanan sumber komoditas dan menjaga jalur perdagangannya. Pada tahun 1623, VOC di Asia telah membangun 21 benteng dan memiliki lebih dari 100 kapal serta lebih dari 2000 personil militer maupun sipil[1]. Dua per tiga kapal-kapal VOC disibukkan dengan kegiatan blokade pelabuhan dan perampasan muatan kapal-kapal milik saingan VOC seperti Spanyol dan Portugis. Sampai tahun 1622, kegiatan perampasan muatan kapal musuh telah menjadi sumber utama pendapatan VOC. Untuk mendukung kehadiran VOC di Read More
  • 5. Perluasan Industri Gula Di Jawa +

    PERLUASAN INDUSTRI GULA DI JAWA Jauh sebelum VOC membangun benteng Batavia, Banten sudah menjadi pelabuhan internasional yang kerap dikunjungi kapal-kapal dari berbagai negara seperti Tiongkok, India dan Arab, termasuk orang-orang Portugis. Lada menjadi daya tarik utama Banten sehingga Belanda mengirim Cornelis de Houtman dengan 4 kapal ke Banten yang tiba tanggal 15 Juni 1595. Tahun 1602 orang Inggeris membangun kantor dagangnya di Banten dan Belanda pada tahun 1603. Sementara itu orang-orang Tiongkok dari Fujian sudah banyak yang berada di Banten dan kapal-kapalnya termasuk yang paling kerap ke Banten. Pada tahun 1622 tentara VOC tercatat sejumlah 147 orang, 77 diantaranya adalah Read More
  • 1