BATAVIA

Cornelis de Houtman tiba di Sunda Kelapa 13 Nopember 1596 yang merupakan pelabuhan kota Jayakarta. Penduduk Sunda Kelapa berjumlah beberapa ribu orang, termasuk komunitas kecil Tionghoa di utara kota yang umumnya pedagang dan pembuat arak. Kota tersebut adalah bagian dari Kesultanan Banten dengan penguasanya adalah Pangeran Wijayakrama. Pelabuhan ini dianggap strategis sehingga menjadi persinggahan kapal-kapal VOC untuk mengisi perbekalan.


VOC yang sudah memiliki benteng di Ambon untuk monopoli perdagangan rempah-rempah menganggap bahwa lokasi Ambon terlalu jauh dari jalur perdagangan utara-selatan. Banten dinilai lebih strategis lokasinya, namun di Banten VOC berhadapan dengan Kesultanan Banten yang kuat dan persaingan dengan Inggeris serta pedagang-pedagang Tiongkok yang ada. Oleh sebab itu Sunda Kelapa menjadi pilihan terbaik bagi VOC untuk dijadikan pusat administrasi perdagangannya.

Para gubernur jenderal VOC sebelum JP Coen sudah menyewa tanah untuk pendirian loji sebagai kantor VOC di Sunda Kelapa. Namun VOC menjadi kesal karena Inggeris juga diberi ijin mendirikan loji di Sunda Kelapa. Catatan Antonio van Diemen menyatakan bahwa pada tanggal 22 Oktober 1618 JP Coen memutuskan untuk merubah loji VOC menjadi benteng. Hal ini menimbulkan pertikaian dengan Pangeran Wijayakrama karena ijin diberikan hanya untuk pendirian kantor dagang dan bukan benteng.


Pada tanggal 13 Januari 1619 benteng tersebut mulai digunakan untuk menyerang Jayakarta. Sejak itu terjadi pertempuran antara VOC dengan Banten dan Inggeris dengan kekalahan di pihak VOC. JP Coen mencari bala bantuan ke Maluku dan pada tanggal dan pada tanggal 30 Mei 1619 JP Coen dengan pasukan dari benteng dan diperkuat 19 kapal merebut Jayakarta dan mengusir orang-orang Banten dan Inggeris dari Jayakarta, serta mengganti namanya menjadi Batavia. Selanjutnya JP Coen memblokade dan menyerang Banten pada bulan Agustus 1619. Sejak itu peran Banten sebagai pelabuhan internasional menjadi surut. Catatan van Diemen menyatakan bahwa tanggal 11 Oktober 1619 adalah kedatangan pertama 400 orang Tionghoa untuk berdagang dan bermukim di Batavia.

Oleh Coen Batavia dimaksud bukan untuk pemukiman melainkan sebagai pusat administrasi perdagangan VOC yang terdiri dari armada maritim dan rangkaian benteng-benteng untuk menjaga jalur perdagangannya. Kegiatan di Batavia semata-mata untuk urusan pergudangan dan pertahanan kota sehingga penduduk Batavia dibatasi pada mereka yang diperlukan untuk produksi dan pasokan bahan makanan kebutuhan kota. Kecuali petinggi VOC, orang-orang Belanda dilarang membawa keluarganya ke Batavia. Untuk pekerjaan kasar didatangkan tenaga dari luar Jawa karena VOC tidak menghendaki penduduk setempat. VOC khawatir kemungkinan terjadinya pemberontakan bila membolehkan penduduk setempat berada di dalam dinding kota Batavia. Pada masa tersebut disekitar Batavia masih menghadapi ancaman dari Banten dan nantinya dari Mataram.


Perkebunan dan penggilingan tebu untuk gula dan tetes umumnya dikelola oleh orang-orang Tionghoa di sepanjang sungai Ciliwung dan di sekitar Batavia. Gula dibungkus keranjang dari daun kelapa dan dikirim ke Batavia dengan sampan melalui sungai Ciliwung sedangkan tetes digunakan untuk pembuatan arak.Setelah Batavia diperluas dan dilengkapi pertahanan baru, selain para pekerja VOC hanya orang-orang mardijker serta pekerja trampil dan pedagang yang umumnya orang Tionghoa dibolehkan tinggal di Batavia. Mereka merupakan kelompok etnis Asia terbesar di Batavia. Orang-orang Tionghoa, baik yang di dalam kota mapun yang di luar dinding kota nantinya akan makin berperan dalam industri gula Batavia.

Pada masa tersebut VOC belum tertarik pada perdagangan gula dari Batavia karena masih ada barang dagangan lain yang lebih menguntungkan seperti lada dan rempah-rempah. Pada tahun 1622 diketahui adanya sejumlah 109 ton ekspor gula kristal putih oleh VOC ke Belanda. Gula yang diekspor bukan dari Jawa melainkan dari luar Jawa