AWAL PEMBUATAN GULA KRISTAL :

DI BANTEN ATAU DI BATAVIA ?

Pemanis makanan dan minuman sudah dikenal di Indonesia sejak zaman dahulu, seperti madu lebah dan gula kelapa, gula aren dan lain-lain.

Raffles

Raffles dalam “History of Java” menulis bahwa penduduk asli di Jawa lazimnya mengkonsumsi gula merah. Tebu tidak dikonsumsi sebagai bahan pemanis melainkan sebagai makanan penyegar yaitu dengan mengunyah batang untuk air tebu. Gula yang disukai adalah gula merah yang mereka buat dari nira kelapa atau nira tebu yang dimasak sampai kental lalu dijemur sampai keras. Mereka tidak tertarik memproses nira tebu menjadi gula kristal. Galloway dalam “The Sugar.

Cane Industry: An Historical Geography from Its Origins to 1914”, juga menyatakan bahwa berbeda dengan penduduk Asia, orang-orang Eropa lebih menyukai gula kristal, dan ditambahkan bahwa orang-orang Eropa telah “terbelenggu” oleh gula kristal.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa VOC yang pertama kali mengekspor gula dari Batavia, namun belum dapat dipastikan bahwa awal pembuatan gula kristal dari Hindia Belanda adalah di Batavia. Boleh diduga bahwa Banten merupakan lokasi pertama pembuatan gula kristal di Indonesia berdasar batu silinder di Museum Banten Lama dan lukisan peta kota Banten tahun 1595.

Pertimbangan yang mendukung dugaan tersebut adalah :

a. Ada catatan teknologi awal pembuatan gula di Tiongkok pada masa Dinasti Chin Timur tahun 317-420. Teknologi tersebut berkembang terus dan pada masa Dinasti T’ang tahun 618-907 sudah terdapat industri gula kristal di Kwangtung dan Szechuan. Bahkan pada masa Dinasti Sung Selatan tahun 1127-1279, pendapatan pajak dan ekspor gula berperan besar dalam mendanai angkatan bersenjatanya. Hal ini menunjukkan tingkat kemajuan industri gula di Tiongkok.
b. Penggilingan dua silinder diyakini sebagai ciri khusus teknologi Tiongkok yang berbeda dengan teknologi tiga silinder yang berasal dari India. Ilustrasi Gambar 1 adalah batu silinder di Museum Situs Banten Lama yang mirip dengan batu yang digunakan pada penggilingan tebu yang digunakan di Tiongkok pada Gambar 2.


c. Sebelum Batavia, Banten adalah pelabuhan internasional yang banyak dikunjungi pedagang-pedagang dari berbagai negara seperti dari Tiongkok, India, Arab dan Portugal. Sebelum kedatangan orang Belanda pertama ke Indonesia yaitu Cornelis de Houtman, di kota Banten sudah ada orang Portugis dan komunitas Tionghoa yang oleh Sultan Banten diberi hak untuk bermukim dan berdagang.


Keterangan Gambar 3.Berdasar keterangan pada lukisan, tanda lingkar A menunjukkan pemukiman komunitas Gujarat dan Benggala dekat Mesjid Raya; lingkar B menunjukkan pasar, gudang dan pemukiman komunitas Tionghoa dan Portugis dalam lokasi terpisah di luar benteng kota.

Catatan : Tanda lingkar bukan bagian dari lukisan peta Willem Lodewijcksz. Tanda tersebut dicantumkan agar mudah membacanya.

Lepas dari akurasi lukisan peta tersebut, berdasar komposisi luasnya lahan serta pagar yang membentengi lokasi komunitas Tionghoa, dapat diduga bahwa warga komunitas tersebut relatip cukup banyak dan memiliki peran yan cukup signifikan di Banten. Kehadiran komunitas tersebut menimbulkan dugaan kuat akan eksistensi penggilingan tebu untuk pembuatan gula dan mungkin juga arak.

Di sisi lain, masih ada keraguan akan kebenaran dugaan bahwa Banten adalah lokasi pertama industri gula di Hindia Belanda, yaitu mengenai masa penggunaan batu silinder di Museum Banten Lama. Apabila batu silinder sudah digunakan pada penggilingan tebu di Banten pada masa kedatangan Cornelis de Houtman maka dapat dipastikan bahwa Banten merupakan lokasi pertama berdirinya industri gula kristal. Sayangnya usia batu giling tersebut belum diketahui.