INDUSTRI GULA

Pabrik gula pada awal abad XVII adalah kilang-kilang penggilingan tebu, pembuatan gula serta kebun tebunya. Dibandingkan dengan pabrik gula masa kini, pabrik gula abad XVII tampak sangat sederhana. Meskipun demikian, pada masa itu pengelolaan pabrik gula memerlukan manajemen yang relatif kompleks, teknologi yang rumit serta dukungan finansial yang cukup besar, disamping pajak dan perijinan oleh VOC serta monopoli pembelian oleh VOC yang menetapkan jumlah dan harga pembelian gula sesukanya.

Faktor-faktor terpenting yang harus diperhitungkan dalam pengusahaan gula tebu meliputi lokasi penggilingan, lokasi lahan tebu, ketersediaan bahan bakar kayu, ketersediaan tenaga kerbau, ketersediaan tenaga kerja, peralatan masak dan penggilingan dari batu serta yang paling penting adalah tenaga akhli pemasak nira tebu.

Perkebunan tebu harus berdekatan lokasinya dengan penggilingan tebu karena hasil panen tebu harus digiling secepatnya mengingat sifat tebu yang kadar gulanya menurun drastis bila tebasan batang tebu terlalu lama menunggu giling. Lokasi penggilingan juga harus berdekatan dengan sungai untuk memudahkan angkutan gulanya ke Batavia.

Pengangkutan batang tebu dari kebun tebu ke penggilingan dilakukan menggunakan kereta kerbau. Demikian pula untuk pengangkutan bahan bakar kayu digunakan kereta kerbau. Lokasi kandang kerbau juga harus berdekatan dengan penggilingan atau kebun tebu serta harus dijaga dari gangguan harimau.

Perkebunan tebu memerlukan tanah yang subur dengan pengairan yang cukup sehingga lokasinya biasanya berdekatan dengan sungai. Lahan-lahan subur umumnya milik orang-orang Belanda sehingga penggunaannya dikenakan sewa atau kerjasama usaha. 

Perkebunan tebu juga memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak terutama pada masa panen. Untuk kerja musiman digunakan tenaga petani yang bersawah di sekitar kebun tebu. Selain itu juga digunakan pekerja-pekerja musiman dari pantai utara Jawa seperti dari Cirebon dan Pekalongan.

Pemasakan nira tebu menjadi gula kristal memerlukan ketrampilan khusus yang dalam hal ini banyak digunakan orang-orang dari Fujian, Tiongkok. Pemasakan nira menjadi gula kristal putih memerlukan pengaturan suhu dan pengaturan pH yang tepat sementara peralatan pada masa itu masih sederhana maka ketrampilan juru masak memegang peranan yang sangat penting.

 

Semua hal tersebut diatas menyebabkan diperlukannya dukungan finansial yang cukup besar dalam pembuatan gula sehingga peran orang-orang Tionghoa tampak lebih menonjol.