PERLUASAN INDUSTRI GULA DI JAWA

Jauh sebelum VOC membangun benteng Batavia, Banten sudah menjadi pelabuhan internasional yang kerap dikunjungi kapal-kapal dari berbagai negara seperti Tiongkok, India dan Arab, termasuk orang-orang Portugis. Lada menjadi daya tarik utama Banten sehingga Belanda mengirim Cornelis de Houtman dengan 4 kapal ke Banten yang tiba tanggal 15 Juni 1595. Tahun 1602 orang Inggeris membangun kantor dagangnya di Banten dan Belanda pada tahun 1603. Sementara itu orang-orang Tiongkok dari Fujian sudah banyak yang berada di Banten dan kapal-kapalnya termasuk yang paling kerap ke Banten.

Pada tahun 1622 tentara VOC tercatat sejumlah 147 orang, 77 diantaranya adalah orang-orang Eropa dari berbagai kebangsaan seperti Inggeris, Perancis, Skot dan Denmark. Untuk mengefektifkan peran Batavia sebagai pangkalan militer dan pangkalan dagang Coen membatasi jumlah penduduk Batavia. Coen mengupayakan agar jumlah non-budak sesedikit mungkin dan budak[1]/ sebanyak mungkin. Mereka yang non-budak hanyalah sebanyak yang diperlukan untuk membantu VOC menjalankan fungsi Batavia sebagai pusat pergudangan dan administrasinya. Orang-orang Belanda dilarang membawa keluarganya ke Batavia. Yang boleh tinggal hanya pedagang dan pekerja trampil Tionghoa  serta para mardijker[2]/. Untuk memenuhi kebutuhan budak, Con mendatangkannya dari India dan Arakan[3]/. Coen mendatangkan tawanan dari Celebes, Bali dan Banda[4]/ untuk dijadikan budak. Khawatir akan pemberontakan, tidak ada budak dari pulau Jawa. Coen juga menculik[5]/ penduduk Macau untuk dijadikan budak di Batavia. Dengan kebijakan tersebut maka para budak dan komunitas Tionghoa merupakan kelompok Asia terbesar yang tinggal di Batavia. Hal inilah yang menjadi salah satu sebab besarnya peran orang-orang Tionghoa dalam industri gula Batavia.

Pada tahun 1620 diketahui adanya ekspor gula oleh VOC ke Eropa. Gula yang diekspor bukan dari Jawa melainkan yang diperoleh VOC dari Tiongkok, Formosa, Siam dan Benggala. Pada saat itu Tiongkok sudah menjadi salah satu produsen gula terbesar di Asia Timur.

VOC belum tertarik pada perdagangan gula dari Jawa karena masih ada barang dagangan lain yang lebih menguntungkan seperti lada dan rempah-rempah. Perkebunan dan penggilingan tebu untuk pembuatan arak dan gula sudah dikelola oleh orang-orang Tionghoa di sepanjang sungai Tjiliwoeng dan di sekitar Batavia. Gula dibungkus keranjang dari daun kelapa dan dikirim ke Batavia dengan sampan melalui sungai Tjiliwoeng. Tidak dapat dipastikan apakah gula produksi lokal tersebut sudah berupa gula kristal meskipun teknologi pembuatannya sudah dimiliki orang-orang Tionghoa.  

Tahun 1630 Heeren XVII[6]/ makin menaruh perhatian pada gula dari Asia ketika pasokan gula dari koloni Belanda di Brazil mulai terganggu akibat pertikaiannya dengan orang-orang Portugis. Harga gula yang tinggi menyebabkan gula dari Asia dapat memberikan dapat memberi keuntungan yang diharapkan meskipun menjalani pelayaran yang lebih panjang yaitu melalui Tanjung Pengharapan.

 

Sumber : SOUTHEAST ASIAN EXPORTS SINCE THE 14TH CENTURY CLOVES PEPPER COFFEE AND SUGAR, Bulbeck, Reid, Tan, Wu, KITLV Press,1998
Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain & Ireland (Third Series)
Journal of the Royal Asiatic Society of Great Britain & Ireland (Third Series) (2000), 10: 297-298
Copyright © The Royal Asiatic Society 2000
Published online: 24 September 2009

Book Reviews
Southeast Asian Exports since the 14th Century: Cloves, Pepper, Coffee and Sugar. Compiled by David Bulbeck, Anthony Reid, Lay Cheng Tan, and Yiqi Wu. pp. xiii, 195. Leiden, Canberra, and Singapore: KITLV Press, Research School of Pacific and Asian Studies, and Institute of Southeast Asian Studies, 1998.

Namun perolehan gula dari sekitar Batavia masih tersendat karena perseteruannya dengan Sultan Agung[1]/ dari Mataram.  Meskipun serangannya ke Batavia gagal, masih banyak sisa-sisa prajurit Mataram yang berada disekitar benteng Batavia karena tidak mau atau tidak berani kembali ke Mataram. 

Namun suasana tersebut tidak berlangsung lama. Berkembangnya Batavia menarik kedatangan orang-orang dari luar Jawa, terutama orang-orang Tionghoa untuk tinggal di luar Batavia. Mereka umumnya tinggal di luar Batavia karena VOC melarang pembangunan rumah-rumah bambu di dalam kota. Orang-orang Tionghoa yang umumnya pedagang mudah berbaur dengan penduduk asli di sekitar Batavia. Mereka mengusahakan penggilingan tebu untuk pembuatan arak dan gula yang dijual ke Batavia.

Pada tahun 1636 Heeren XVII secara resmi memerintahkan VOC agar produksi gula di Batavia ditingkatkan. Sejak saat itulah VOC mulai menaruh perhatian pada industri gula di sekitar Batavia. Melihat potensi yang sudah ada di sekitar Batavia, VOC tidak berniat membangun sendiri industri gulanya. VOC menetapkan bahwa perdagangan gula adalah monopoli VOC dan VOC berhak membeli gula kwalitas nomor 1 dan nomor 2 dengan harga yang ditentukan VOC.  Untuk itu VOC memberi ijin penggunaan lahan disekitar Batavia untuk penanaman tebu dan pembangunan kilang tebu serta ijin penebangan pohon untuk bahan bakar pembuatan gula.

Kebijaksanaan VOC telah meningkatkan produksi gula yang umumnya dilakukan oleh pengusaha Tionghoa yang memiliki teknologi pembuatan gula kristal. Lahan tebu diperluas dan pekerja-pekerja didatangkan dari Cheribon. Ekspor gula pertama dari Batavia dilakukan pada tahun 1637 sebanyak 618 ton.

Belanda adalah merkantilis dan bukan industrialis seperti Inggeris dan Jepang. Produksi gula diserahkan pada orang-orang Tionghoa yang menggunakan teknologi Tiongkok. Berbeda sikapnya di Brazil dimana orang-orang Belanda berperan langsung dalam produksi gula dengan teknologi mereka yaitu three-rollers . Untuk meningkatkan produksi gula ekspor, Belanda tidak tertarik melakukan industrialisasi gula di Hindia Belanda melainkan memaksa petani untuk mensubsidi ekspornya melalui upah yang rendah. Ketidak mampuan untuk membangun industri yang dapat memberikan imbalan yang yang lebih memadai kepada produsen gula di Hindia Belanda menunjukkan ketidakmampuan menyisihkan modal dari keuntungan yang diperoleh dari Hindia Belanda.

Catatan : Brazil’s sugar cycle 1540-1640

Until the early seventeenth century, the Portuguese and the Dutch held a virtual monopoly on sugar exports to Europe. However, between 1580 and 1640 Portugal was incorporated into Spain, a country at war with Holland. The Dutch occupied Brazil's sugar area in the Northeast from 1630 to 1654, establishing direct control of the world's sugar supply. When the Dutch were driven out in 1654, they had acquired the technical and organizational know-how for sugar production. Their involvement in the expansion of sugar in the Caribbean contributed to the downfall of the Portuguese monopoly.

Perang dengan Portugis di Brazil tahun 1645-1654 telah mengganggu pasokan gula dan menaikkan harganya di Eropa. Heeren XVII menghendaki agar VOC dapat memasok gula Asia 1-3,5 juta pound per tahun ke Eropa. Namun mereka menghendaki gula nomor 1 yaitu gula kristal. Untuk gula Batavia, jenis ini tidak menjadi masalah karena penggilingan di sekitar Batavia mampu memproduksinya. Pada tahun 1652, ekspor gula dari Jawa meningkat menjadi 723 ton dari penggilingan yang jumlahnya mencapai 20.

Setelah peperangan di Brazil berakhir, pasokan gula ke Eropa kembali normal sehingga harga turun. Heeren XVII tidak lagi berminat akan gula dari Asia sehingga ekspornya ke Eropa hanya dapat dilakukan sebagai ballast kapal agar harganya bersaing. VOC yang tidak berniat menurunkan produksi gula terpaksa menjualnya ke Pasaran Asia.

Keputusan VOC untuk mengalihkan penjualan gula ke Asia tampaknya tepat dan gula Batavia mulai memegang peran penting. Ekspornya ke Surat, Malabar dan Jepang meningkat dan bahkan mampu bersaing dengan gula Benggala di Surat. Nantinya pada tahun 1700-an, ekspornya ke Asia mencapai 2.2 juta pound dibandingkan dengan ekspornya ke Belanda yang hanya mencapai 0.5 juta pound. 

Sumber : 

  1. Stamford Raffles, History of Java, J. Murray, 1830 
  2. De Gids. Jaargang 51, P.N. van Kampen & zoon, Amsterdam 1887
  3. HC Princen Geerlings, World Cane Sugar Industri, Past and Present, Altrincham (Manchester), N. Rodger,1912
  4. Ulbe Bosma, Colonial Industrial Taste, The diverging involvement of Java and India in the global sugar market, International Institute of Social History, Amsterdam
  5. Els M. Jacobs, Merchant in Asia. The Trade of the Dutch East India Company during the Eighteenth Century, Studies in Overseas History Vol. 8, No. 146. Leiden 2006
  6. Cheng-Siang Chen, The Sugar Industry of China, The Geographical Journal, Vol. 137, No. 1 (Mar., 1971)
  7. J. H. Galloway, The Sugar Cane Industry: An Historical Geography from Its Origins to 1914, Cambridge Studies in the Historical Geography, Cabridge University Press, 1989.  
  8. Bondan Kanumoyoso, Beyond The City Wall, Society and Economic Development
in the Lowlands of Batavia, 1684-1740, Proefschrift ter verkrijging van de graad van Doctor aan de Universiteit Leiden, 2011.
  9. David Bulbeck, Southeast Asian Exports since the 14th Century: Cloves, Pepper, Coffee and Sugar. Compiled by David Bulbeck, Anthony Reid, Lay Cheng Tan, and Yiqi Wu. pp. xiii, 195. Leiden, Canberra, and Singapore: KITLV Press, Research School of Pacific and Asian Studies, and Institute of Southeast Asian Studies, 1998.
  10. Ernst van Veen, VOC Strategies In The Far East 1605-1640, 2001
  11. Van Diemens Roode Vlucht, door Daan van der Zee, Historische data (ca. 43kB), tusschen het geboortejaar en het sterfjaar van Antonio van Diemen.