TAPAK TILAS

  • Konsumsi gula di Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun, terutama akibat meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan pola makan. Kebutuhan ini dipenuhi dengan produksi gula putih dalam negeri. Namun karena kenaikan produksi dalam negeri belum mencukupi kebutuhan maka kekurangannya dipenuhi melalui impor. Ternyata impor gula putih makin meningkat dari waktu ke waktu karena kenaikan konsumsinya lebih cepat daripada kenaikan produksi. Hal ini juga membawa dampak meningkatnya ketergantungan pada impor gula putih.
  • Sementara menunggu swasembada gula maka timbul pemikiran untuk mengurangi ketergantungan impor gula putih melalui pembuatan gula di dalam negeri menggunakan bahan baku gula mentah. Di pasaran internasional, harga gula mentah atau raw sugar lebih murah daripada harga gula putih. Sebagaimana diketahui, gula putih maupun gula mentah sama-sama berbahan baku tebu karena gula putih adalah gula mentah yang telah telah diproses lebih lanjut. Oleh sebab itu pembuatan gula di dalam negeri dapat memberikan berbagai manfaat seperti penghematan devisa dan penambahan lapangan pekerjaan. Lebih ekonomis mengimpor gula mentah daripada mengimpor gula putih. Hal ini sejalan dengan kebijaksanaan Pemerintah untuk meningkatkan investasi di dalam negeri sebagaimana tertuang dalam Undang-undang nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Namun untuk melindungi para petani tebu dan pabrik gula yang telah ada maka Pemerintah membatasi konsumsi gula yang berbahan baku gula mentah. Langkahnya adalah membedakan namanya dan memisahkan konsumennya. Gula produksi dalam negeri yang berbahan baku gula mentah diberi nama gula kristal rafinasi atau GKR sedangkan yang berbahan baku tebu diberi nama gula kristal putih atau GKP. Juga ditetapkan bahwa GKR hanya boleh dikonsumsi sebagai bahan baku untuk industri.
  • Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia atau AGRI didirikan tahun 2004 beranggotakan 3 perusahaan yang ada pada saat itu yaitu PT Angels Products, PT Jawamanis Rafinasi dan PT Sentra Usahatama Jaya. Sampai saat ini jumlah anggota Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia telah mencapai delapan pabrik.
  • Keberadaan pabrik-pabrik tersebut telah menggantikan impor gula kristal putih dan sekaligus mengisi kekosongan kebutuhan gula yang belum dapat dipenuhi oleh pabrik-pabrik gula berbahan baku tebu. Produksi GKR dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung musim giling tebu sehingga menjamin ketersediaan gula secara berkesinambungan sepanjang tahun. Akibatnya harga gula di dalam negeri tidak mudah bergejolak dan tidak mudah dipermainkan tengkulak, terutama pada masa menjelang hari-hari raya nasional. Dampak positif lainnya adalah makin berkembangnya industri makanan, minuman dan farmasi di dalam negeri. Selain itu, laju kenaikan inflasi dapat diredam, atau setidaknya dapat dikatakan bahwa gula bukan lagi sumber inflasi.